Tarian Mandau Kalimantan Tengah

Tarian Mandau Kalimantan Tengah
Tarian Mandau Kalimantan Tengah

Rabu, 25 Januari 2012

Lima Bulan Pasca Kebakaran Kios 10 Pintu


FOTO : HUSRIN A LATIF/KALTENG POS






PASRAH–Beberapa kios tetap berjualan dengan atap yang terbuka dan sebagaian menggunakan terpal.  

Lima Bulan Pasca Kebakaran Kios 10 Pintu
Demi Bertahan Hidup, Berjual dengan Atap Bocor  
Kebakaran sepuluh pintu yang terjadi pada kios di Jalan Usman Harun Sampit lima bulan lalu, tepatnya pada 18 September 2011 itu masih menyisakan puing-puing sisa kebakaran. Meskipun demikian beberapa pedagang tetap menjualkan dagangannya demi menopang kebutuhan keluarga.
=========================================================
HUSRIN A LATIF, Sampit
Kondisi kios sepuluh pintu yang merupakan tempat para pedagang menjualkan berbagai barang, mulai dari sembako sampai handphone tersebut masih menghawatirkan. Pasalnya pasca kebakaran lima bulan lalu itu beberapa pedagang tetap menjualkan dagangannya dengan kondisi atap dan pintu seadanya.  
Salah satu pedagang yang tetap bertahan dikios pasca kebakarakan itu adalah Haryanto (29), pria satu anak yang merupakan  penjual handphone (Hp) serta aksesorisnya itu, sejak lima bulan lalu tetap menjualkan barangannya demi  bertahan hidup meskipun kondisi dan keadaan tempat lokasi berjualan sudah tidak memungkinkan lagi.
Sementara Haryanto  mengaku, bahwa dia tetap memilih bertahan ditempat kios itu, karena tidak ada lagi pekerjaan lain selain berjualan. “Ya mas mau gimana lagi, kan dari dulu saya memang kerjanya jualan ini (handphone red). Jadi kalau pekerjaan sudah tidak ada lagi, makanya saya memilih lebih baik tinggal disini,” ujar Haryanto saat dibincagi Kalteng Pos, Kamis (26/1).
“Sejak kebakaran itu, saya dan pemilik kiso lainnya hanya mendapat bantuan dari kumpulan mahasiswa waktu itu sekitar Rp 1, 5 juta per kiosnya. Sedangkan untuk tenda dan alat masak saat itu ada bantuan dari Depertemen Sosial (Depsos),” ucap ayah yang memili satu anak ini.
Menurut, Haryanto setelah kebakaran itu untuk bantuan dari Pemerintah daerah masih belum ada karena yang ada hanya terpal dan alat masak tadi. Sedangkan kerugian yang dialaminya mencapai Rp 20-Rp 25 juta lebih.
“Nah, kalau masalah bantuan dari Pemda, dengar-dengar waktu itu sih ada tapi untuk bantuan perehapan sampai saat ini (kemarin red) masih belum ada. Dan kalau mengharapkan bantuan dari pemda kemungkinan masih lama, lebih baik bertahan aja dan tetap berjual barang seadannya untuk bertahan dulu,” ujar Haryanto.
“Setelah kebakaran itu juga, penjualan jadi menurun. Kalau dulu sebelum kebakaran sehari bisa dapat Rp 200 -Rp 300 ribu perharinya. Tapi kalau sekarang ya ampun susah sekali mas, sehari paling ada dapat Rp 50 ribu saja, itu pun hanya bisa untuk bertahan,” ucapnya.
Sedangkan selain omzet menurun, kondisi lain yang dicemaskan oleh Haryanto adalah ketika hujan. Karena kios yang tidak ada dindinghanya menggunakan terpal sekaligus menjadi atapnya tidak bisa bertahan lama, karena sudah bocor.
“Jadi saat hujan sudah gak bisa diceritakan lagi lah, air sudah pasti masuk kedalam dan dari atapnya juga sudah bocor, itukan hanya dituutp dengan terpal saja. Ya begitulah keadannya.” Jelas Haryanto. (*)

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar